JURNAL POLA PENDIDIKAN ISLAM MASA RASULULLAH SAW
(Kajian Historis Pola Pendidikan Islam Masa Rasulullah Fase Mekkah dan Madinah
Serta Konstribusinya Pada Pendidikan Islam Masa Kini)

 

POLA PENDIDIKAN ISLAM MASA RASULULLAH SAW

(Kajian Historis Pola Pendidikan Islam Masa Rasulullah Fase Mekkah dan Madinah

Serta Konstribusinya Pada Pendidikan Islam Masa Kini)

Oleh : Saddam Husein, Mahasiswa Pascasarjana IAIN Ambon

Email:  Saddamambon91@gmail.com

Abstrack

Abstrak

Penelitian ini berkenaan dengan segala usaha dan upaya Rasulullah dalam

Pengembangan Pendidikan Islam. Olehnya itu, penulis kiranya berusaha mengkonstruksikan sebanyak-banyaknya peristiwa masa lampau yang terjadi. Akan tetapi, dapat disadari sudah pasti peristiwa masa lampau itu tidak akan   mungkin seluruhnya dapat dikonstruksikan, mungkin hanya sebagian kecil saja dengan harapan yang begitu besar kiranya menemukan titik terang pola pendidikan Islam masa Rasulullah SAW. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan gabungan antara pendekatan historis dan deskriptif.

Hasil dari penelitian ini adalah deskriptif pola pendidikan Islam masa Rasulullah Muhammad SAW meliputi: (1) Karakter konsep strategi, (2) Metode, (3) Kurikulum, (4) Materi serta (4) Lembaga-lembaga pendidikan pada era awal. Dengan harapan  pola  pendidikan  Islam  Masa  Rasulullah  sebagai  solusi  transpormatif

pendidikan  Islam  Masa  kini  yang  di  hadapi  oleh  beragam  problematika  dan perbedaan cara pandang, pemahaman dan implementasi ajaran Islam.

Kata Kunci: Pola Pendidikan Islam Masa Rasulullah dan Transformasi Pendidikan

Islam Masa Kini.

PENDAHULUAN A.  Latar Belakang

Dalam analisis Fazlur Rahman dinyatakan bahwa semenjak masa klasik (850

M-1200 M), umat Islam memiliki kekayaan ilmu dan pengetahuan. Akan tetapi memasuki abad pertengahan sampai ahkir abad ke-19 M, umat islam mengalami kemunduran  khususnya  dalam  bidang  pendidikan.1    Olehnya  itu,  perlu  adanya penataan  ulang system  pendidikan  yang menginternalisasikan nilai-nilai dan pola pendidikan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Penelusuran terhadap pola-pola serta keteladanan beliau dalam mendidik sangatlah urgen, sebab keresahan pendidikan Islam masa kini semakin memprihatinkan.

Kajian tentang pendidikan Islam masa Rasulullah SAW pada hakikatnya tidak terlepas dari sejarah Islam itu sendiri. Oleh sebab itu, periodesasi sejarah pendidikan Islam dapat dikatakan berada dalam periode-periode sejarah Islam. Secara garis besar Dr. Harun Nasution membagi sejarah Islam ke dalam tiga periode, yaitu periode klasik, pertengahan dan modern.  2 kemudian perinciannya dapat dibagi menjadi lima masa, yaitu masa hidupnya Nabi Muhammad SAW, Masa Khalifa yang empat (Khulafa al-Rasyidin), masa kekuasaan Umawiyah di Damsyik, kekuasaan Abbasiyah

dan masa dari jatuhnya kekuasaan khalifa di bagdad tahun 1250 M sampai sekarang.3

1   Rembangy,  Musthofa,  2010,  Pendidikan  Transformatif  :  Pergulatan  KritisMerumuskan

Pendidikan di Tengah Pusaran Arus Globalisasi, Yogyakarta : Teras, 2010). h. 33

2  Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam : Sejarah Pemikiran dan Gerakan, ( Jakarta: Bulan Bintang, 1975), h. 11

3 Iskandar Engku, Sejarah Pendidikan Islam, ( Cet. I : PT Remaja Rosda Karya, 2014), h. 1

Sejarah menjelaskan kepada kita bahwa pendidik khususnya pada Rasulullah dan para sahabat bukan merupakan profesi atau pekerjaan untuk menghasilkan uang atau sesuatu  yang  dibutuhkan  bagi  kehidupannya,  melainkan  ia  mengajar karena panggilan agama, yaitu sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT, Mengharapkan keridahan-Nya seta menghidupkan agama.4

Pendidikan  Islam  adalah  bimbingan  jasmani,  rohani  berdasarkan  hukum-

hukum  agama  Islam  menuju  kepada  terbentuknya  kepribadian  utama  menurut ukuran-ukuran Islam.5  Pada dasarnya pendidikan Islam mengutamakan segi kerohanian dan moral, maka segi mental, jasmani, matematik, ilmu social, dan jurusan-jurusan  praktis  tidak diabaikan  begitu  saja. Dengan  demikian  pendidikan tersebut merupakan pendidikan yang komprehensif. Pendidikan Islam sangat memperhatikan bidang keimanan, aqidah dan pencapaian ilmu karena zat ilmiah itu sendiri, dan pada masa Rasulullah SAW karakteristik ini telah dimiliki terutama aspek ilmiah, kesusastraan dan kebendaan.

Pendidikan Islam di Periode Rasulullah SAW. Fase Mekkah dan Madinah merupakan sejarah masa lalu yang perlu diungkapkan kembali, sebagai bahan perbandingan, sumber gagasan, gambaran strategi pelaksanaan proses pendidikan Islam. Pendidikan Islam di masa Rasulullah SAW, tidak lepas dari metode, evaluasi, materi, kurikulum, pendidik, peserta didik, lembaga, dasar, tujuan dan sebagainya yang bertalian dengan pelaksanaan pendidikan Islam, baik secara teoritis dan praktis.

Latar belakang inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian mengenai pendidikan Islam pada masa Rasulullah SAW, meliputi pola pendidikan beliau  baik  mengenai  metode,  konsep,  kurikulum,  strategi,  serta  hal-hal  yang

berkatian dengan aktifitas beliau dalam upaya mendidik.

4   Majadah Hanusi Saruji, Turiq al-Ta’limFi al-Islam, (Israel: Syifa Amaru al-Ma’arif al- Tsaqafi, 1994), h.30

5 Radi Udin S. Sangadji Saddam Husein, ‘URGENSI PEMBELAJARAN AL- QUR ’ AN HADIST TERHADAP’, 3.1 (2018), 1–13.

  1. B. Identifikasi dan Batasan Masalah

Penelitian   ini   sangatlah   urgen.   Sebab,   selain   menelusuri   juga   akan membongkar pola pendidikan Islam masa Rasulullah. Dengan harapan melahirkan solusi bagi pendidikan Islam masa kini dalam pengembangannya.

Dalam penelitian ini, fokus penelitian hanya ditujukan kepada Pola pendidikan Islam masa Rasulullah SAW meliputi: (1) Karakter konsep strategi, (2) Metode, (3) Kurikulum, (4) Materi serta (4) Lembaga-lembaga pendidikan pada era awal.

  1. Rumusan Masalah
  2. a. Bagaiman Pola pendidikan Islam masa Rasulullah?
  3. Bagaimana Transformasi Pola Pendidikan Rasulullah dalam Pendidikan Islam Masa

Kini?

PEMBAHASAN

  1. Pola Pendidikan Islam Masa Rasulullah SAW Periode Mekkah
  2. Strategi Pedidikan Rasulullah SAW

Srategi pengajaran   pendidikan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Sejalan dengan tahapan-tahapan dakwah yang disampaikannya kepada kaum Quraisy yang terdiri dari tiga tahapan:

  1. Tahap Rahasia dan Perorangan

Pada awal turunya wahyu pertama { the first revelation} Al-qur’an surat 96 ayat 1-

5, pola pendidikan yang di lakukan adalah secara sembunyi-sembunyi, mengiangat kodisi sosial-politik yang belum stabil, dimulai dari dirinya sendiri dan keluarga dekatnya.  Mula-mula  Rasulullah  mendidik  istrinya  Khadijah  untuk  beriman kepada Allah dan menerima petunjuk dari-Nya.  Kemudian diikuti oleh anak angkatnya Ali Ibn Abi Thalib {Anak pamanya} dan Zaid Ibn Haritsah {Seorang pembantu rumah tangganya yang kemudian diangkat menjadi anak angkatnya}. Kemudian sahabat karibnya Abu Bakkar Assidiq. Ajakan tersebut di sampaikan secara berangsur-angsur secara meluas, tetapi masih terbatas di kalangan keluarga

dekat dari suku Quraisy saja,6  seperti Usman Ibn Affan, Zubair Ibn Awam, Saad Ibn Zaid, dan beberapa orang lainnya. Mereka semua merupakan tahap awal yang mula-mula masuk islam yang di sebut “assabiquna al awwalun, sebagai lembaga pendidikan dan pusat kegiatan pendidikan islam yang pertama pada Era awal ini adalah rumah Arqam.7

  1. b. Tahap Terang-terangan

Pendidikan  secara sembunyi  –  sembunyi  berlangsung selama tiga  tahun, sampai turunya wahyu berikutnya, yang memerintahkan dakwah secara terbuka dan terang-terangan. Ketika wahyu tersebut turun, beliau mengundang keluarga dekatnya untuk berkumpul di bukit Shafa, menyerukan agar berhati hati terhadap azab yang keras di kemudian (hari kiamat), bagi orang yang tidak mengakui Allah sebagai Tuhan yang Esa dan Muhammad sebagai utusan-Nya. Seruan tersebut di jawab Abu Lahab, “Celakalah kamu Muhammad! Untuk inikah kamu mengumpulkan kami? Saat itu di turunkan wahyu yang menjelaskan perihal Abu Lahab dan Istrinya.8

Perintah dakwah secara terang terangan dilakukan oleh Rasulullah seiring

dengan jumlah sahabat yang semakin banyak dan untuk meningkatkan jangkauan seruan dakwah, karena di yakini dengan dakwah tersebut, banyak kaum Quraisy yang akan masuk islam. Di samping itu keberadaan rumah Arqam ibn Arqam sebagai pusat dan lembaga pendidikan islam, sudah diketahui oleh kuffar Quraisy.

  1. c. Tahap Untuk Umum

Hasil seruan dakwah secara terang-terangan yang terfokus kepada keluarga dekat, kelihatanya belum maksimal sesuai dengan apa yang diharapkan. Maka Rasulullah mengubah strategi dakwahnya dari seruan yang terfokus kepada keluarga dekat

beralih kepada seruan umum umat manusia secara keseluruhan. Seruan  dalam

6 Lihat, QS. (26) : 213-216

7 Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Terj. Ali Audah, (Jakarta: Tintamas, 1972), h. 30

8 Lihat QS (111) : 1-5

skala ‘internasional’ tersebut didasarkan kepada perintah Allah, surat al-hijr ayat

94-95.9  Sebagai tindak lanjut dari perintah tersebut, pada musim haji Rasulullah mendatangi  kemah-kemah  para jamaah  haji.  Pada awalnya tidak  banyak  yang menerima, kecuali sekelompok jamaah haji dari Yatsrib, kabilah Khazraj, yang menerima dakwah secara antusias. Dari sinilah sinar islam memancar keluar Mekkah.10

Penerima masyarakat Yatsrib terhadap ajaran islam secara antusias tersebut, dikarenakan beberapa faktor :

  1. a. Adanya kabar dari kaum Yahudi akan lahirnya seorang
  2. Suku Aus dan khazraj mendapat tekanan dan ancaman dari kelompok Yahudi . c. Konflik antara Khazraj dan Aus yang berkelanjutan dalam rentang waktu yang sudah lama, oleh karena itu mereka mengharap seorang pemimpin yang mampu melindungi dan mendamaikan mereka.11  Berikutnya di musim haji pada tahun kedua belas kerasulan Muhammad SAW, Rasulullah didatangi dua belas orang laki-laki dan seorang wanita untuk berikrar kesetiaan yang dikenal dengan “Bai’at al aqabah .” mereka berjanji tidak akan menyembah selain Allah SWT. Tidak akan mencuri dan berzina, tidak akan membunuh anak-anak dan menjauhkan perbuatan

– perbuatan keji serta fitnah, selalu taat kepada Rasulullah dalam yang benar, dan tidak akan mendurhakainya terhadap sesuatu yang mereka tidak inginkan.12

  1. Metode Pendidikan Islam Masa Rasulullah SAW

Pelaksanaan pembinaan pendidikan Islam pada zaman Nabi tersebut dapat dibedakan  menjadi  2  tahap,  baik  dari  segi  waktu  dan  tempat  penyelenggaraan, maupun  dari  segi  isi  dan  materi  pendidikannya,  yaitu  :  (1)  tahap/fase  Makkah,

sebagai   awal   pembinaan   pendidikan   Islam,   dengan   Makkah   sebagai   pusat

9  Soekarno dan Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, (Cet. II; Bandung: Angkasa Bandung, 1990), h. 32

10 Ibid., h. 33

11 Ibid., h. 37-38

12   Syafiyyur  Rahman  al-Mubarakfury,  Sirah  Nabawiyyah,  (Cet.  9;  Jakarta:  Pustaka  al- Kautsar, 2000), h. 109

kegiatannya,  (2) tahap/fase Madinah, sebagai  fase lanjutan pembinaan/pendidikan

Islam dengan Madinah sebagai pusat kegiatannya.13

Adapun metode yang diterapkan dan dikembangkan oleh Nabi dalam menyampaikan materi yang ada adalah:

  1. Dalam bidang  keimanan:  melalui  tanya  jawab  dengan  penghayatan   yang mendalam dan di dukung oleh bukti-bukti yang rasional dan ilmiah.
  2. Materi ibadah  :  disampaikan  dengan  metode  demonstrasi  dan  peneladanan sehingga mudah didikuti masyarakat.
  3. Bidang akhlak:  Nabi  menitikberatkan  pada  metode  peneladanan.  Nabi  tampil dalam kehidupan sebagai orang yang memiliki kemuliaan dan keagungan baik dalam ucapan maupun perbuatan.14

Dengan demikian, pendidikan pada masa Rasulullah ketika di Makkah, bertempat di rumah Rasul sendiri, rumah al-Arqam bin Abi Arqam, kuttab (rumah guru, halaman/pekarangan mesjid), Inti materi yang diajarkan;  keimanan, ibadah dan akhlak, juga  baca-tulis dan  berghitung untuk  tingkat dasar, al-Quran,  dasar-dasar agama   untuk   tingkat  lanjut.  Guru  disebut  mu‘allim   atau  muaddib,   serta  tidak dibayar,  dan  bagi  tingkat dasar gurunya  non muslim.  Pada saat Islam datang hanya

17  orang  Qurasy  yang  bisa  baca  tulis.   Sedangkan  ketika  di  Madinah   tempat belajar ditambah  mesjid, materi yang diajarkan ditambah;  pendidikan kesehatan dan kemasyarakatan.     Sistemnya     halaqah.    Metodenya;     tanya-jawab,    demontrasi

dan  uswah hasanah, murid disebut dengan  ashhabush shuffah.15  Menurut sebagian

13 Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, cet.9, 2008). h. 14-18

14 Armai Arief, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam

Klasik. (Bandung: Penerbit Angkasa,2005). h 135-136

15  Ashabush Suffah  adalah orang (sahabat)  yang belajar di sudut-sudut masjid atau bilik- bilik yang berhubungan langsung dengan masjid, yang selanjutnya disebut suffah . Lihat dalam Samsul Nizar,  Sejarah  PendidikanIslam:  Menelusuri  Jejak  Sejarah  Era  Rasulullah  Sampai  Indonesia.

(Jakarta: Kencana, 2007), cet. ke-1. Hlm. 5-22. Lihat juga dalam Hasan Asari, Menyingkap Zaman

Keemasan Islam, (Bandung: Mizan, 1994), cet. ke-1. h. 27

ahli,  suffah  ini  dianggap  sebagai  universitas  Islam  pertama,  the  first  Islamic university.16

Metode yang digunakan Rasulullah dalam mendidik sahabatnya antara lain: (1) metode ceramah, menyampaikan wahyu yang baru diterimanya dan memberikan penjelasan-penjelasanserta keterangan-keterangannya; (2) dialog, misalnya dialg antara Rasulullah dengan Mu’az ibn Jabal ketika Mu’az akan diutus sebagai kadi ke negeri Yaman; (3) diskusi ata tanya jawab, sering sahabat bertanya kepada Rasulllah tentang suatu hukaum, kemudian rsul menjawab; (4) metode perumpamaan, misalnya orang  mukmin  itu  laksana  satutubuh,  bila  sakit  salah  satu  anggota  tubuh  maka anggota tubuh lainnya akan turut merasakannya; (5)metode kisah, misalnya kisah beliau dalam perjalanan isra’ dan miraj; (6) metode pembiasaan, membiasakan kaum muskimin shalat berjamaah; (7) metode hafalan, misalnya para sahabat dianjurkan untuk menjaga al-Qur’an dengan menghafalnya.

  1. Materi Pendidikan Islam Masa Rasulullah SAW

Nabi Muhamad SAW adalah orang yang teguh mempertahankan tradisi Nabi Ibrahim, tabah dalam mencari kebenaran hakiki, menjauhkan diri dari keramaian dan sikap hedonisme dengan berkontemplasi (ber-tahannus) di Gua Hira. Pada tanggal 17

Ramandhan turunlah wahyu Allah yang pertama, surat al-Alag Ayat 1-5 sebagai fase pendidikan Islam Makkah.

Pendidikan  Islam terjadi  sejak Nabi  Muhammad  diangkat  menjadi  Rasul Allah di Makkah dan beliau sendiri sebagai gurunya. Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama di Gua Hira di Makkah pada tahun 610 M.dalam wahyu itu termaktub ayat al-qur’an yang artinya: “Bacalah (ya Muhammad) dengan

nama tuhanmu yang telah menjadikan (semesta alam). Dia menjadikan manusia dari

16  Moh. Untung Slamet, Muhammad Sang Pendidik, (Semarang: Pustaka Rizki Putera,

2005), h. 44

segumpal darah. Bacalah, dan tuhanmu maha pemurah. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.17

Pendidikan Islam mulai dilaksanakan Rasulullah setelah mendapat perintah dari Allah agar beliau menyeru kepada Allah, sebagaimana yang termaktub dalam A- Qur’an surat Al-Mudatstsir ayat 1–7. Dalam surat Al-Mudatstsir ini bahwa ” bangun (menyeru)” berarti mengajak dan mengajak berarti mendidik.18 Adapun Bahan/materi pendidikan tersebut diturunkan secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit.

Setelah banyak orang memeluk Islam, lalu Nabi menyediakan rumah Al- Arqam bin Abil Arqam untuk tempat pertemuan sahabat-sahabat dan pengikut- pengikutnya.19  di tempat itulah pendidikan Islam pertama dalam sejarah pendidikan Islam.disanalah  Nabi  mengajarkan  dasar-dasar  atau  pokok-pokok  agama  Islam kepada sahabat-sahabatnya dan membacakan wahyu-wahyu (ayat-ayat) alqur’an kepada para pengikutnya serta Nabi menerima tamu dan orang-orang yang hendak memeluk agama Islam atau menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam. Bahkan disanalah Nabi beribadah (sholat) bersama sahabat-sahabatnya.20

Dalam   masa   pembinaan   pendidikan   agama   Islam   di   Makkah   Nabi Muhammad juga mengajarkan al Qur’an karena al-Qur’an merupakan inti sari dan sumber pokok ajaran Islam. Disamping itu Nabi Muhamad SAW, mengajarkan tauhid kepada umatnya.21  natinya pendidikan dan pengajaran yang diberikan Nabi selama di

Makkah  ialah  pendidikan  keagamaan  dan  akhlak  serta  menganjurkan  kepada

17 Lihat, Q.S. Al-Alaq: 1-5)

18  Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1997), hal. 12. Surat Al Mudatssir: 1-7   yang artinya: Hai orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah, lalu berilah peringatan!  dan   Tuhanmu   agungkanlah!  dan    pakaianmu   bersihkanlah.  dan    perbuatan   dosa

tinggalkanlah. dan  janganlah  kamu  member  (dengan  maksud)  memperoleh (balasan)  yang  lebih banyak. dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

19 Setelah turunnya ayat dalam surat  al-„Alaq  ayat 1-6 sebagai representasi perintah belajar,

wahyu Allah berikutnya perintah mengajar, yaitu Surat al-Mudatsir: 1 – 7. Setelah turun ayat ini

Rasulullah saw mulai mengajar shahabatnya, dan jumlah yang belajar selama 3 tahun setelah kenabian;

53 orang, laki-laki 43 dan wanita 10 orang, Nabi bersama orang yang beriman belajar di rumahnya Al – Arqam bin Abi Arqam.

20 H. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT.Raja Grafindo, Persada, 2008).

  1. h. 6

21 Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan Islam, .. h. 28

manusia, supaya mempergunakan akal pikirannya memperhatikan kejadian manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan alam semesta seagai anjuran pendidikan ‘aqliyah dan

ilmiyah.

Adapun materi pendidikan yang diutamakan Rasulullah SAW Fase Mekkah diantaranya:

  1. a. Pendidikan Keagamaan, yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata jangan dipersekutukan dengan nama selain-Nya.
  2. Pendidikan Aqliyah dan Ilmiah, Yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta.
  3. c. Pendidikan  akhlak   dan   budi   pekerti,   yaitu   Nabi   Muhammad   SAW mengajarkan kepada sahabatnya agar berakhlak baik sesuai dengan ajaran tauhid.
  4. Pendidikan jasmani atau kesehatan, yaitu mementingkan kebersihan pakaian, badan dan tempat kediaman.22
  5. Kurikulum Pendidikan Islam masa Rasulullah SAW

Kurikulum pendidikan Islam pada masa Rasulullah adalah al-Qur’an, yang Allah wahyukan sesuai dengan kondisi dan situasi. Dalam praktiknya pendidikan Islam tidak hanya dituntuk sebagai pendidikan yang logis dan rasional tetapi juga secara fitrah dan fragmatis. Hasil dari cara yang demikian itu dapat dilihat dari sikapo rohani dan mental para pengikutnya  yang dipancarkan kehidupan  yang bermental dan smengat yang tangguh, tabah, sabar.

Rasulullah juga menyuruh para sahabat untuk mempelajari bahasa asing. Rasulullah berkata kepada Zaid bin sabit “saya hendak mengirim surat kepada kaum Suryani, saya khawatir kalau mereka menambah nambah atu mengurangi sebab itu, hendaklah engkau mempelajari bahasa Suryani (Yahudi)”. Statement ini  menunjukkan  bahwa  pendidikan  islam  sifatnya  Universal,  berlaku  uintuk

semua umat di dunia. Selain itu pernyataan Rasulullah juga menunjukkan bahwa materi pelajaran yang berasal dari dunia luar bukan hal yang tidak boleh dipelajari, akan tetapi hal yang wajib dilakukan untuk pengembangan dakwah dan pendidikan Islam ke dunia luar Islam.23

Kurikulum yang didedahkan oleh Rasulullah sama ada di Mekah atau pun Madinah bertujuan melahirkan insan yang sempurna dari segi fizikal dan spiritual agar memperolehi kebahagian di dunia dan akhirat. Kurikulum yang digariskan oleh Rasulullah s.a.w. ini kemudiannya diwarisi oleh para sahabat termasuk pengumpulan dan pembukuan al-Quran dan Hadis yang membawa kepada pengenalan ilmu tafsir, usuludin, fiqah, dan ilmu-ilmu lain

  1. B. Transformasi Pola Pendidikan Rasulullah SAW dalam Pendidikan Islam

Masa Kini

Secara epistemologi keilmuan, konsepsi dasar pendidikan Islam berpijak pada pendidikan seumur hidup. Pendidikan  Islam tidak dipilah-pilah secara dikotomis. Baik antara pendidikan formal dengan non formal, atau pendidikan agama dengan umum maupun memilah-milah antara aspek logika, etika maupun estetika. Karena agama Islam mencakup seluruh aspek kehidupan. Rasulullah SAW sebagai mu’allim mendidik ummatnya dengan kepribadian yang luhur dan ajaran yang ia ajarkan terhindar dari kesia-siaan, apa yang beliau ajarkan senantiasa selaras dengan akhlaq yang beliau tampilkan. Hal ini dapat  menerangkan kepada para peserta didiknya bahwa ilmu yang telah diajarkan tidak akan sia-sia karena perlu pengamalan dalam kehidupan sehari-hari yang akan membawanya pada keberhasilan ummat.

Rasulullah memiliki tujuan yang sangat mulia yakni membebaskan umatnya dari kesulitan dan penderitaan hidup sebagaimana termaktub dalam QS. At-Taubah

128

Terjemahan: Sungguh Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan   keselamatan)   bagimu,   amat   belas   kasihan   lagi   Penyayang terhadap orang-orang mukmin.

Sebagai mu’allim, beliau tidak pernah menuntut kepada ummatnya untuk memahami ajarannya dengan cepat. Beliau akan selalu mengajarkan kepada siapapun yang mau berusaha belajar tentang Islam, beliau senantiasa sabar lagi  rendah hati terhadap ummatnya yang memiliki daya penalaran lemah sekalipun. Seperti hadits Rasulullah SAW berikut;

aku pernah datang kepada Rasulullah SAW ketika sedang berpidato. Aku berkata kepada beliau; ‘Wahai Rasul, seorang asing telah datang kepada engkau untuk menanyakan perihal agama. Ia tidak tahu perihal agamanya.’ Rasulullah SAW lalu menemuiku dan menghentikan pidatonya. Setelah beliau bersamaku, beliau diambilkan kursi yang setahuku berasal dari besi. Rasulullah kemudian duduk diatasnya  dan  mulai  mengajariku  tentang  sesuatu  yang  telah  diajarkan  Allah

kepadanya.Setelah itu, beliau melanjutkan pidatonya hingga selesai.”24

24  HR. Imam Bukhori dalam kitab Adabul Mufrad juga Imam Muslim dan Nasa’I, ilmu

pengetahuan, dengan teks redaksi hadits dari Imam Muslim.

Pendidikan adalah perancang kepribadian manusia, maka diperlukan adanya pemahaman tentang tentang pribadi manusia seperti keadaan  yang terpancar dari tingkah lakunya. Rasulullah telah mengajarkan pada kita dengan menjadi sosok yang sangat memahami keadaan psikologi para peserta didiknya. Sebagaimana sikap beliau dalam hadits;

Kami golongan pemuda yang berumur sebaya pernah datang kepada Rasulullah SAW dan tinggal bersama beliau selama 20 malam. Kami mendapati beliau adalah seorang yang amat penyayang lagi santun. Ketika beliau mengira kami telah merindukan keluarga kami di kampung halaman, beliau menanyakan siapa saja yang kami  tinggal  dirumah.  Kami  pun  menceritakannya  kepada  beliau  dan  beliau bersabda:  ‘Sekarang,  silahkan kalian  pulang  kepada  keluarga  kalian;  tinggallah bersama mereka; ajarilah mereka; anjurkanlah mereka berbuat kebajikan; dan kerjakanlah sholat sebagaimana kalian melihat aku sholat. Jika telah datang waktu sholat, hendaklah kalian mengumandangkan adzan dan hendaknya yang menjadi imam adalah orang yang paling dewasa diantara kalian.’25

Dan dalam nukilan hadits;

Beliau mudah melupakan hal-hal yang tidak berkenan dihati beliau (tidak menyimpan  dendam);  tidak  memupuskan  harapan  orang  lain;  dan  berusaha

membuat orang lain punya sikap optimis.26

25 HR. Imam Bukhori dan Muslim

26 HR. Imam Tirmidzi

Dalam menyampaikan ajaran (proses belajar mengajar), Rasulullah memiliki beberapa metode untuk mencapainya. Menurut Abdul Fattah Abu Ghuddah, ada 40 metode yang dilakukan Nabi SAW, yaitu

  1. Metode modeling dan etika mulia (keteladanan)
  2. Metode pengajaran graduasi (pentahapan sesuai tingkatan)
  3. Metode situasional dan kondisional
  4. Metode selektif dan proporsional
  5. Metode interaktif dialogis (tanya jawab)
  6. Metode pertanyaan (berpikir logis dan rasional)
  7. Metode pertanyaan untuk menyelami kecerdasan dan pemahaman
  8. Metode analogi
  9. Metode tasybih (membuat persamaan antara beberapa hal yang berbeda)
  10. Metode menulis (menggambar)
  11. Metode bahasa lisan dan isyarat (anggota tubuh)
  12. Metode demonstrasi dengan alat peraga
  13. Metode pre tes
  14. Metode jawaban proporsional
  15. Metode jawaban secara panjang lebar
  16. Metode menjawab diluar konteks dan tema
  17. Metode pengulangan pertanyaan
  18. Metode menggunakan metode jawaban orang lain
  19. Metode pertanyaan dan pujian

 

  1. Metode membenarkan kasus dengan sikap diam

 

  1. Metode memilih momentum kondusif
  2. Metode humor
  3. Metode meyakinkan dengan cara bersumpah
  4. Metode mengulang-ulang materi
  5. Metode mengubah posisi, dan mengulang pertanyaan

Metode membangkitkan perhatian dengan mengulangi penjelasan dan menunda jawaban

  1. Metode membangkitkan perhatian dengan memegang tangan peserta didik
  2. Metode membangkitkan kuriositas dengan membiarkan sesuatu tetap tidak jelas
  3. Metode penjelasan secara global dan detail
  4. Metode penyebutan bilangan secara global
  5. Metode nasehat dan peringatan
  6. Metode motivasi dan ultimatum
  7. Metode cerita
  8. Metode memberikan kata pengantar
  9. Metode bahasa isyarat
  10. Metode konsistensi dan prioritas tehadap pendidikan perempuan

 

  1. Metode menampakkan kemarahan
  2. Metode media teks
  3. Metode menggunakan bahasa asing
  4. Metode menampilkan kepribadian luhur27

Dari metode-metode tersebut, maka kita dapat mengetahui bahwa Rasulullah SAW melakukan pendidikan yang berhubungan langsung dengan peserta didik. Komunikasi yang terbangun antara pendidik dan yang dididik sangatlah erat sehingga motivasi yang dimiliki peserta didik untuk mengamalkan ilmu lebih besar jika dibandingkan  dengan pengajaran  yang tidak dibekali kedekatan psikologis  antara guru dan murid.

 

Dari uraian terdahulu, maka penulis dapat menarik sebuah konklusi bahwa pola pendidikan yang dijalankan Rasulullah SAW di masanya memiliki kontribusi

yang begitu besar kepada pendidikan Islam masa kini. Dan memang pola tersebut

 

27 http://www.huajiehulan.com/2012/12/artikel-kuliah-transformasi-pendidikan_2648.html, diunduh pada 20 Mei 2016

 

 

 

 

 

yang mencakup; konsep, strategi, metode serta kurikulum implementasinya bukan saja di masa Rasulullah, namun berlaku dan dapat di transformasikan di setiap zaman. Sebab, dalam menerapkan sebuah metode maupun kurikulum, Rasulullah selalu mengedepankan kebutuhan yang mendasar yang pada akhirnya metode serta kurikulum tersebut sesuai dengan kebutuhannya ketika itu, dalam artian metode pembelajaran,  konsep  maupun  kurikulum  selalu  beradaptasi  dengan  perubahan zaman. Namun satu hal yang menjadi catatan penting, bahwa dalam hal pendidikan Rasulullah sangat mengedepankan akhlakul karimah.

 

Mentransformasikan nilai-nilai dala hal ini segala bentuk  pola pendidikan Rasulullah SAW fase Mekkah dan Madinah sangatlah urgen, sebab ketika diamati, bahwa sesungguhnya segala keteladanan beliau dalam menyampaikan Ajaran Islam mampu   beradaptasi   di   setiap   zaman.   Akhirnya,   penulis   dapat   garis   bawahi bahwasanya pola pendidikan Islam masa Rasulullah SAW dapat ditransformasikan pada Pendidikan Islam masa Kini melalui kurikulum, proses belajar mengajar serta dalam mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. C. Simpulan

 

  1. Simpulan

 

Berdasarkan hasil analisis atas penelusuran terhadap pola pendidikan Rasulullah  Muhammad  SAW  dalam  pendidikan   Islam   Fase  Mekkah  dan Madinah, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pola pendidikan  Islam  masa  Rasulullah  SAW  meliputi:  Karakter  konsep strategi,  metode,  kurikulum,  materi  serta  lembaga-lembaga  pendidikan  Islam yang terimplementasi dalam setiap upaya Rasulullah SAW dalam melakukan upaya    pembinaan    pendidikan    Islam.    Karakter    konsep    beliau    dalam

 

 

 

 

 

menyampaikan ilmu sangat mengedepankan nilai-nilai keteladanan (uswatun khasanah). Setelah ditelusuri, bahwa strategi pendidikan yang dilakukan beliau pada pendidikan Islam fase Mekkah dan madinah sifatnya sangatlah kondisional. Karena  beliau  selalu  menerapkan  strategi  yang  mampu  beradaptasi  dengan kondisi masyarakat ketika itu, dan terbukti bahwa upaya beliau selalu meningkat dan membawa hasil.  Begitupun dengan metode-metode. Sekalipun Rasulullah SAW sangat mengistimewakan metode ceramah dan dialog namun dalam penerapan metode tersebut selalu ditanamkannya nilai-nilai keteladanan (uswatun khasanah), sebab dalam menyampaikan ajaran Islam, Rasulullah SAW tidak sekedar menyampaikan begitu saja, namun beliau jauh sebelumnya telah mempraktekkan apa yang disampaikannya itu.

Materi pendidikan Islam pada masa Rasulullah SAW fase Mekkah dan Madinah terdiri dari materi Tauhid fase Mekkah serta materi tauhid dan sosial fase  dimadinah. Ketika dikaji secara mendalam, bahwa pemberian materi tauhid fase mekkah merupakan langkah yang sangat tepat, dimana ketika itu masyarakat Arab di Mekkah sangatlah memprihatinkan namun karena keteladanan serta kelemah  lembutan  beliau,  masyarakat  Arab  yang  dikenal  dengan  kepribadian yang keras nan jahiliyah itu mampu ditaklukan sehingga segala macam bentuk kemusyrikan dan aktifitas berala mampu digantikan dengan ketauhidan,  yaitu dengan menyembah Allah SWT. Pada fase Madinah, selain ajaran ketauhidan dan keagamaan, Rasulullah SAW juga mengajarkan betapa pentingnya menjalin hubungan sosial bukan hanya antar umat beragama, namun menjalin hubungan social yang harmonis juga harus dijaga dalam lintas agama, suku, ras dan segala macam bentuk perbedaan. Dan menurut analisis penulis, bahwa ini merupakan strategi beliau, kiranya Islam dapat memperlihatkan kesejukannya dan dengan sendirinya masarakat ketika itu akan menyadari bahwa Islamlah yang hendak diimani.

 

 

 

 

 

  1. 2. Mentransformasikan nilai-nilai  serta  pola  Pendidikan  Islam  yang  dicontohkan Rasulullah Sangatlah urge sebab ketika diamati, bahwa sesungguhnya segala keteladanan beliau dalam menyampaikan Ajaran  Islam mampu beradaptasi di setiap zaman. Akhirnya, penulis dapat garis bawahi bahwasanya pola pendidikan Islam  masa  Rasulullah  SAW  dapat  ditransformasikan  pada  Pendidikan  Islam masa       Kini    melalui    kurikulum,    proses    belajar    mengajar    serta    dalam mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun daripada itu, dibutuhkan kreatifitas para pemimpin kita dalam merancang kurikulum, strategi serta konsep pendidikan Islam yang lebih mampu beradaptasi dengan segala problematika  yang ada.  Sebab  jika tidak,  secanggih  apapun  media  yang ada, namun tanpa dibarengi dengan metode, strategi serta keteladanan konsep yang telah   dicontohkan   oleh   Rasulullah   maka   niscaya   pendidikan   Islam   akan mengalami peningkatan. Sebab, pendidikan Islam diharapkan mampu mencetak Insan yang tidak hanya cemerlang pikirannya, namun juga bersih hatinya.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

al-Mubarakfury, Syafiyyur Rahman, Sirah Nabawiyyah, Cet. 9; Jakarta: Pustaka al- Kautsar, 2000

 

Arief, Armai. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam

Klasik. Bandung: Penerbit Angkasa,2005

 

Engku, Iskandar. Sejarah Pendidikan Islam, Cet. I : PT Remaja Rosda Karya, 2014

 

Hanusi Saruji, Majadah. Turiq al-Ta’limFi al-Islam, Israel: Syifa Amaru al-Ma’arif

al-Tsaqafi, 1994

Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Terj. Ali Audah, Jakarta: Tintamas, 1972

 

Husain,   S.   (2018).   URGENSI   PEMBELAJARAN   AL-QUR’AN   HADIST   TERHADAP PRESTASI  BELAJAR  PESERTA  DIDIK  DI  MTs  NURUL  IKHLAS  KALAPA  DUA SERAM BAGIAN BARAT. al-Iltizam, 3(1).

Husein, Saddam. “URGENSI PEMBELAJARAN AL-QUR’AN HADIST TERHADAP PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK
 DI MTs NURUL IKHLAS KALAPA DUA SERAM BAGIAN BARAT.” Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama Islam 3, no. 1 (May 22, 2018): 1. doi:10.33477/alt.v3i1.411.

 

 

Musthofa, Rembangy, 2010, Pendidikan Transformatif : Pergulatan KritisMerumuskan Pendidikan di Tengah Pusaran Arus Globalisasi, Yogyakarta : Teras, 2010

 

Nasution, Harun. Pembaharuan Dalam Islam : Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 1975

 

Pelupessy, N. K.  A., & Husein, S. (2018). PEMBINAAN AKHLAK MULIA MAHASISWA DALAM LEMBAGA DAKWAH KAMPUS (LDK) AL-IZZAH IAIN AMBON. al-Iltizam, 3(1).

 

Slamet, Moh. Untung. Muhammad Sang Pendidik, Semarang: Pustaka Rizki Putera,

2005

 

Supardi, Ahmad. Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Cet. II; Bandung: Angkasa

Bandung, 1990

Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT.Raja Grafindo, Persada, 2008

 

Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, cet.9, 2008

 

Zaidah, Kusumawati,   dkk. Ensiklopedia Nabi Muhammad saw Sebagai Pendidik.

(Jakarta: PT. Lentera Abadi. . 2011

 

 

 

 

 

Zaki, Menggali Sejarah Menimba Ibrah: Tafsir Baru atas Faktaneka Sejarah Islam

Klasik, Mataram: Arga Puji Press, 2007

 

Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam,  Cet, XI: Bumi Aksara; Jakarta, 2011

 

Saddam Husein, Radi Udin S. Sangadji, ‘URGENSI PEMBELAJARAN AL- QUR ’

AN HADIST TERHADAP’, 3 (2018)